Sabtu, 20 April 2019

Falsafah Niat Dalam Kehidupan

FALSAFAH NIAT DALAM KEHIDUPAN 
Dalam kehidupan kita kerap sekali melakukan sebuah perbuatan, baik perbuatan yang menimbulkan manfaat maupun yang menimbulkan keburukan. Perbuatan yang menimbulkan manfaat dinamakan “ 'Amal Sholih” dan perbuatan ini muncul dari sebuah akhlak, yaitu Akhlak Mahmudah(Akhlak Terpuji). Dan adapun perbuatan buruk itu muncul karna adanya Akhlak Mazmumah(Akhlak Tercela) dalam diri seseorang. 
Bahkan jika kita tilik, Akhlak Mazmumah bukan hanya menimbulkan perbuatan buruk tetapi juga menimbulkan sebuah perbuatan yang tampaknya juga baik, namun perbuatan itupun jadi buruk karna adanya Akhlak Mazmumah berupa “Riya' “. Riya sendiri mempunyai lawan yaitu “Ikhlas”, riya' dan ikhlas ini terdapat didalam hati kita yaitu berupa “Niat”.
Niat menurut Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di, ialah maksud dalam beramal untuk mendekatkan diri pada Allah, mencari ridha dan pahalaNya. Atau dapat pula kita simpulkan dengan singkat, bahwa Niat adalah maksud dalam melakukan sesuatu. Sesuatu yang kita kerjakan pasti memiliki maksud, baik buruknya suatu perbuatan itu, maka maksud inilah yang bernama “Niat”. 
Niat merupakan perkara yang penting dalam kehidupan terutama dalam bersosial terhadap masyarakat. Karna pentingnya niat itu Rasulullah Saw. Bersabda. 
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى
“ Sesungguhnya setiap amalan perbuatan itu tergantung kepada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”

Dengan adanya hadits tersebut semakin insaflah kita akan perlunya niat dalam segala hal. Sebagaimana dalam hadits itu disebutkan, yaitu “bahwa setiap amalan perbuatan itu tergantung kepada niatnya “ jika kita tilik sabda Nabi ini, maka perbuatan yang kita lakukan sebaik apapun itu tetapi jika diawali niat yang tidak baik, maka tidak menjadi baik pula perbuatan kita, melainkan menjadi perbuatan yang rusak karna sebelum pelaksanaannya saja sudah diawali dengan maksud yang tidak baik. 

Cobalah kita menilik kepada kejadian yang terjadi saat ini, betapa banyak orang mulai dari para pejabat dan orang kaya raya yang berlomba lomba berbuat kebajikan namun sayang perbuatan mereka tersebut tidak diiringi dengan niat yang tulus. Betapa banyak orang orang kaya dan pejabat yang dimana mereka berbuat baik lantaran ingin namanya dikenal dan mereka melakukan hal tersebut hanya pada momen yang menguntungkan baginya, jika tidak menguntungkan maka mereka tidak akan dan bahkan enggan untuk melakukan hal kebaikan tersebut. 

Rasulullah Saw. Juga menambahkan bahwa “setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”. Cobalah kita tilik kembali dengan kisah diatas, banyak orang yang berbuat kebajikan namun niatnya hanya mencari nama baik dan juga pangkat saja. Lalu sebenarnya untuk apa mereka melakukan hal demikian, tidak lain tidak bukan hanya untuk menutupi keburukan yang ada pada dirinya. Laksana ia memakai pakaian kebaikan ditempat yang menguntungkan dirinya dan juga namanya, dan betul saja ia mendapat sorak gembira dan menjadi terkenal dikalangan itu saja dan tidak akan lebih. Dan bahkan akan membuat orang yang mengenalnya menjadi jijik atas dirinya. 

Lantas jika seseorang itu sudah pulang dari tempat yang menguntungkan dirinya itu, akankah ia tetap memakai pakaian kebaikan itu? Tentulah tidak, karna ia akan malu kepada masyarakat yang kenal akan dirinya. Sekalipun jika ia berani pulang dengan pakaian seperti itu, maka dimata masyarakat tidak ubahlah pandangannya tentang dirinya dan bahkan masyarakat akan tertawa karna sejatinya pakaian yang ia pakai hanyalah untuk menipu masyarakat yang berada jauh darinya dan tidak begitu kenal akan dirinya, namun sejatinya masyarakat yang kenal akan dirinya tidaklah akan tertipu karna mereka tau sejatinya pakaian kebaikan tadi digunakan hanya untuk menutupi buruknya perbuatannya.

Itulah sedikit contoh jika seseorang berbuat kebaikan namun niatnya tidak tulus dari hati dan ia melakukan itu hanyalah untuk mencari nama saja, sehingga rusaklah perbuatan tadi karna niat buruknya sang pelaku tersebut. 
Dan perbuatan demikian hendaklah kita hindari, supaya kita tidak bermuka dua dihadapan orang lain ataupun kita hanya pandai cari muka saja dihadapan orang atas dasar menutupi keburukannya. Jika sifat mencari muka dihadapan orang terus digencarkan maka ia akan terus menerus mencari cara agar dikenal orang dan terlihat baik, sampai sampai ia lupa menilik dirinya sendiri. Sehingga jika ada yang memberikan kritik atasnya, ia tidak akan menyadari kesalahannya dan bahkan ia merasa tidak bersalah karna sibuk mencari muka.

Sekian pemikiran saya yang dapat saya tuangkan dalam tulisan yang singkat ini, semoga Allah SWT. Menjauhkan kita semua dari pada sifat tersebut dan selalu menjaga niat kita dalam beramal.
Amin ya Rabbal 'Alamin.

#Sumber Bacaan
BUYA HAMKA, FALSAFAH HIDUP 
BUYA HAMKA, PELAJARAN AGAMA ISLAM I,II, dan III



Tidak ada komentar:

Posting Komentar