Senin, 19 November 2018

Al Ikhlas ayat 1

Dakwah Al Ikhlas 112:1


Allah SWT berfirman:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ  
"Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa."
(QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 1)
Asbabun Nuzul Qs Al Ikhlas didalam tafsir Ibnu Katsir sebagai berikut ;
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id alias Muhammad ibnu Maisar As-Saghani, telah menceritakan kepada kami Abu Ja'far Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abu Aliyah, dari Ubay ibnu Ka'b, bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Nabi Saw.”Hai Muhammad, gambarkanlah kepada kami tentang Tuhanmu. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Katakanlah, "Dialah Allah Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya."(Al-Ikhlas: 1-4)
Ikrimah mengatakan bahwa ketika orang-orang Yahudi berkata, "Kami menyembah Uzair anak Allah." Dan orang-orang Nasrani mengatakan, "Kami menyembah Al-Masih putra Allah." Dan orang-orang Majusi mengatakan, "Kami menyembah matahari dan bulan." Dan orang-orang musyrik mengatakan.”Kami menyembah berhala." Maka Allah menurunkan firman-Nya kepada Rasul-Nya:
{قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}
Setelah kita mengetahui Asbabun Nuzul nya, maka penulis akan menuliskan beberapa pertanyaan yang dimana berkaitan dengan ayat tersebut ; 
P: Pertanyaan
J: Jawaban
1. P: Siapa yang memberikan nama “الله” pada diri-Nya?  
J: Qs Ta Ha: 14 
Allah SWT berfirman:

اِنَّنِيْۤ اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ  اَنَا فَاعْبُدْنِيْ  ۙ  وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

"Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku."
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 14)

2. P: Jika memang Allah itu ada, lantas mengapa dia tidak bisa dilihat oleh kita? 
J: Coba kalian berfikir, matahari itu ada cahaya nya?  Pasti ada, tapi bisa tidak mata kita untuk melihat matahari secara langsung tanpa adanya alat bantu?  Pasti tidak bisa, dan jika dipaksakan maka itu akan merusak mata. Sekarang pertanyaan untuk kalian, jika matahari saja tidak mampu kita lihat lantas bagaimana caranya kita akan melihat sang Maha Pencipta yang dimana ciptaannya saja tidak mampu kita lihat tanpa adanya alat bantu.

3. P: Di akhir ayat berbunyi “احد” yang artinya Esa, bukankah trinitas dalam agama Kristen itu tujuannya untuk Tuhan yang satu tapi mengapa mereka salah? 
J: Qs Al Ma’idah: 73
Allah SWT berfirman:

لَـقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْۤا اِنَّ اللّٰهَ ثَالِثُ ثَلٰثَةٍ  ۘ  وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّاۤ اِلٰـهٌ وَّاحِدٌ   ۗ 

"Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 73)
Logikanya maka seperti ini, anda seorang perempuan dan anda juga mempunyai adik perempuan. Datanglah seorang lelaki yang cinta kepada dirimu tetapi ia tidak langsung memberikan rasa itu kepadamu, justru ia memberikan rasa cinta dan sayangnya itu kepada adikmu, dengan harapan agar bisa lebih dekat denganmu. Sekarang pertanyaannya apakah kamu menerima cara yang demikian itu?  Pasti tidak, dan dirimu akan marah kepadanya lalu berkata “ Jika kamu memang mencintaiku mengapa kamu memberikan rasa cinta dan sayang yang kepada adikku kenapa tidak langsung kepadaku?”.
Jika dirimu marah dan cemburu akibat demikian lantas bagaimana dengan Allah?  Allah marah dan cemburu karna Allah tidak mau diadakan sekutu atau perantara dalam beribadah kepada-Nya.

4. P: Dalam ayat tersebut terdapat kata dhomir “ هو”. Bukankah itu menunjukkan untuk isim laki laki, berarti Allah berjenis kelamin donk? 
J: Baca ayatnya hingga tuntas, disana dilengkapi dengan kata “احد” yang artinya Esa atau Satu. Pertanyaan untukmu sekarang, ada berapa banyak laki laki didunia ini?  Tidak terhitung kan? Sehingga yang bersifat احد itu hanyalah Allah saja, para makhluk-Nya tidak memiliki sifat itu. Dan mustahil Allah berjenis kelamin, karna Allah itu berbeda dengan makhluk-Nya.
Allah SWT berfirman:

   ۗ  لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ  ۚ  وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat."
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 11)

5. P: Kau bilang Allah itu Maha Esa sudah pasti dia Maha Kuasa kan?,  nah bisakah Allah itu menciptakan sesuatu yang dimana Allah tidak bisa mengangkatnya?.
J: Sekarang saya balik bertanya kepada anda, sesuatu yang anda maksud itu apa?  Coba tunjukkan kepada saya. Karna matahari yang besar saja bisa Allah hancurkan, lantas sesuatu yang anda maksud itu apa?. 
P: Ya sesuatu 
J: Iya sesuatu itu apa?. 
P: hmmm ( Terdiam dan memikirkan sesuatu apa yang ia maksud)

6. P: Tolong ceritakan sejarah singkat tentang Tuhan sehingga Allah menurunkan ayat tersebut.
J: Pada dasarnya ketika kita lahir didunia ini, lalu kita berfikir maka kita akan mengatakan didalam hati bahwa ada yang menciptakan dunia ini, tetapi kita tidak memgetahui siapa nama penciptanya ini. Karna keinginan kita mengetahui siapa pencipta ini, maka banyak orang yang menggambarkan Sang Maha Pencipta dengan pemahamannya dan sesuai hawa nafsunya. Maka dari itu muncullah berhala sebagai sesembahan dll. Oleh karna itu Allah menurunkan para rasul-Nya untuk menjelaskan siapa yang Maha Pencipta itu maka turunlah ayat tersebut yang dimana untuk menjawab pertanyaan tentang siapa Sang Pencipta itu sekaligus menjawab tuduhan yang hina dari pada para manusia pada saat itu.

7. P: Okey, lalu bagaimana dengan adanya sekumpulan manusia yang tidak percaya dengan adanya Tuhan?. 
J: Jadi begini, ketika para Filsuf menggunakan akalnya untuk berfikir tentang ketuhanan, maka ia akan sampai pada sebuah tebing jurang lalu ia melihat disebrang sana adapula tebing yang lebih tinggi dan bahkan tidak akan mampu untuk dijangkau manusia. Maka seseorang yang akalnya bersih dan jujur maka ia akan mengatakan bahwa ada tebing yang tinggi dan itulah yang dinamakan Kebenaran Mutlak atau alam ketuhanan yang dimana tidak akan mampu dicapai oleh akal manusia. Lalu terdapat pula seseorang yang telah lelah berfikir dan ia mengatakan bahwa tidak ada tebing lagi yang lebih tinggi dari pada yang ia pijak, padahal ia melihatnya secara langsung. Tetapi ia malu mengakui kelemahan akalnya dalam mencapai tebing tersebut sehingga ia mengatakan tebing itu tidak ada.


Sebagai penutup, seorang Filsuf dari Inggris yaitu Herbert Spencer yang dikenal tidak percaya pada suatu agama apapun, ia mengatakan “ Kita terpaksa mengakui juga, bahwasanya segala kejadian ini adalah tanda bukti daripada Kodrat Yang Mutlak dan sangat tinggi untuk dicapai oleh akal kita. Dan agama itu yang mula mula sekali menampung hakikat yang tinggi dan mengajarkan siapa Dia. Cuma saja, agama itu pada mulai turunnya masih bercampur aduk dengan ajaran yang kacau balau”.

Daftar Pustaka
) HAMKA, BUYA.,2018,Pelajaran Agama Islam, Jakarta, Republika Penerbit.


Ditulis oleh: Muhammad Afiffudin Anshori 
Mahasiswa UIN JAKARTA (PERBANDINGAN MADZHAB) 
Semester 1
Ig: mochammad_Anshori

"HIDUP MULIA ATAU MATI SYAHID"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar