Sabtu, 24 November 2018

Mencari Tuhan

بسم الله الرحمن الرحيم

Mencari Tuhan

اسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Setelah kemarin saya membahas tentang Qs Al Ikhlas ayat 1. Sekarang izinkan penulis untuk membuat sebuah tulisan yang berjudul " Mencari Tuhan ".
Penulis mengambil sumber dari buku karangan BUYA HAMKA.

Fase mengenal Sang Pencipta
Pada awalnya ketika manusia terlahir kemuka bumi, mereka merasa kebingungan. Ketika mereka menggunakan akalnya untuk berfikir sedikit saja, Maka muncullah rasa keimanan atau kepercayaan tentang adanya sosok yang telah menciptakan segalanya. Mereka kebingungan, ada ciptaannya tetapi pencipta-Nya tidak ditemukan, tetapi mereka tetap meyakini adanya Sang Pencipta itu.

Maka ketika pada masa purbakala, mereka menemukan sebuah benda yang dimana menurut mereka bisa memberikan petuah atau keberuntungan baginya, maka benda itu dijadikan sebagai sesembahan dan dianggap sebagai Tuhan mereka.
(DINAMISME)

Ketika masa bercocok tanam, mereka tidak lagi meyakini benda ( bebatuan dll)  sebagai yang pemberi petuah apalagi hingga menuhankan benda tersebut, tetapi mereka mulai menuhankan Alam Sekitar, diantaranya mereka menuhankan matahari, menuhankan air dan bahkan menuhankan tetumbuhan yang dimana karna adanya tetumbuhan itu mereka bisa makan dan bertahan hidup.

Pada masa yang modern, mereka tidak lagi menuhankan alam sekitar tetapi mereka mulai berfikir bahwa asal mula mereka terlahir yaitu dari pada dua alat kelamin yang bertemu. Maka pada masa ini mereka menuhankan alat kelamin karna mereka berfikir dari alat itulah mereka tercipta. Sehingga pada masa ini muncul pengkultusan kepada orang yang dituakan, akan tetapi ketika orang yang dikultuskan ini telah tiada maka mereka merasakan bahwa arwah dari pada orang yang dituakan tetap ada dan menjaga mereka. Sehingga muncullah kepercayaan kepada arwah nenek moyang(ANIMISME).

Semakin manusia menggunakan otaknya untuk berfikir maka kepercayaan yang telah mereka percayai tadi tidaklah berarti. Muncullah para Filsuf yang dimana mereka berusaha keras mencari hakikat siapa sebenarnya yang telah menciptakan mereka. Mereka berfikir terus menerus hingga akhirnya cara berfikir mereka terhenti, bisa diibaratkan mereka telah berfikir panjang namun mereka menemui sebuah tembok yang sangat tinggi, ketika menjumpai tembok tersebut para Filsuf terbagi menjadi dua golongan ;

1. Golongan yang meyakini akan kekurangan mereka dan kelemahan mereka dalam berfikir, maka mereka mengatakan bahwa mereka telah sampai pada sebuah batas yang dimana dibatasi oleh dinding dan mereka meyakini dibalik dinding itu ada yang memiliki namun mereka ia tidak mampu menjangkaunya, sehingga mereka meyakini akan adanya kepercayaan Mutlak yang tidak dapat ditembus dengan pola pikir manusia.

2. Golongan yang sombong dan tidak mau meyakini akan kelemahan akalnya dalam berfikir. Sebenarnya mereka dalam berfikir juga mencapai batas yang dibatasi oleh dinding,  lalu mereka tidak dapat mencapai dinding itu dan mereka mengatakan bahwa dibalik dinding itu tidak ada apa apa padahal mereka sendiri belum dapat mencapai dinding tersebut. Namun kepercayaan mereka itu bertentangan dengan Kodratnya karna tidak mungkin ada dinding tanpa ada yang membangun tetapi mereka malu mengakui kelemahan akalnya sehingga yang mereka katakan bertentangan dengan hatinya.

TEORI TENTANG ADANYA TUHAN
1. Teori Kejadian
      Manusia tercipta dan terlahir dimuka bumi ini bukanlah atas kehendaknya. Dan bukan dia pula yang menjadikan dirinya itu. Dan ketika manusia ada mereka tidak menciptakan langit ataupun bumi ini, melainkan mereka sudah mendapati bahwa langit sudah menjadi atap dan bumi sudah menjadi tempat berpijak. Dan bahkan manusia pun tidak akan mampu menciptakan bulu yang ada ditubuh mereka. Dan bahkan ketika mereka berhubungan dengan pasangannya mereka tidak akan mampu untuk menghendaki jenis kelamin apa anaknya nanti.
Jika mereka menggunakan akalnya dalam berfikir dalam melihat segala kejadian yang terjadi, maka ia akan bertanya: Siapa yang menjadikan ini, maka dapatlah jawabannya: ada tuhan yang menjadikan ini semua. Inilah Teori Kejadian.

2. Teori Peraturan dan Pemeliharaan.
     Ketika manusia masuk kedalam rumah, maka didapati rumah itu terdapat meja, kursi dan kamar yang tersusun rapih. Dan ketika ia pergi kepekarangan rumahnya, maka ia lihat tertata rapih pekarangan tersebut. Dan muncullah pernyataan didalam diri, bahwa yang mengatur rumah dan pekarangan ini bukanlah seorang Arsitek yang asal asalan tapi seorang Arsitek yang sangat handal.
Maka ketika ia melihat di alam sekitar,  ia melihat pohon durian yang berdekatan dengan pohon manggis tapi rasa durianpun tidak akan pernah berubah menjadi rasa manggis karna adanya pengatur yang sangat hebat. Ketika ia melihat kelangit maka akan didapati adanya Bulan dan bintang bintang yang tidak pernah bertabrakan karna adanya pengatur dan pemelihara.
Siapa pemelihara dan pengatur itu yang sangat lihai dalam mengatur alam semesta ini?  Maka akan timbullah jawaban bahwa Tuhan lah yang mengatur dan memelihara itu semua. Inilah Teori Peraturan dan Pemeliharaan.

3. Teori Gerak
    Ketika bola disepak maka ia akan melambung keatas, tetapi karna dia berat maka ia akan jatuh kebawah. Matahari berat, bulan berat tetapi mereka tidak pernah jatuh kebawah.  Berarti teori berat akan jatuh kebawah terbantahkan oleh adanya matahari yang berat tetapi tidak pernah jatuh. Maka siapa yang menggerakan semua itu?.  Maka muncullah jawaban adanya Tuhan yang menggerakan semua itu sehingga bertentangan dengan pola pikir manusia itu sendiri.
Inilah Teori Gerak.

4. Teori Ada
     Kita ada bukanlah karna kemauan kita sendiri, dan begitupun matahari, ia ada bukan karna kemauannya sendiri. Maka mustahillah mengadakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada hanya karna kemauannya sendiri, melainkan kemauan dari pada Sang Pencipta itu sendiri.
Dalam fithrah manusia, jika ia melihat segala sesuatu yang ada tapi tidak diketahui siapa penciptanya maka kita katakan "tak tahu siapa yang membuatnya".  Dan kita tidak berkata "tak ada pembuatnya".
Oleh karna itu, dahulu kita tidak ada maka sekarang ada, siapa yang mengadakan itu?. Yang mengadakan itu ialah Tuhan.
Inilah Teori Ada.

PERNYATAAN FILSUF ADANYA TUHAN
       Filsuf dari Inggris yaitu Herbert Spencer yang dikenal tidak percaya pada suatu agama apapun, ia mengatakan “ Kita terpaksa mengakui juga, bahwasanya segala kejadian ini adalah tanda bukti daripada Kodrat Yang Mutlak dan sangat tinggi untuk dicapai oleh akal kita. Dan agama itu yang mula mula sekali menampung hakikat yang tinggi dan mengajarkan siapa Dia. Cuma saja, agama itu pada mulai turunnya masih bercampur aduk dengan ajaran yang kacau balau”.    

       Socrates seorang Filsuf mengatakan kepada muridnya yaitu Plato akan adanya Kodrat yang Mutlak yang tidak akan mampu untuk dijangkau oleh manusia.

       Selain itu adapula Filsuf yang mengatakan bahwa segala yang ada dialam ini adalah mempunyai tujuan dan tujuannya mencapai kepada Kodrat Yang Mutlak tersebut. Adapula yang mengatakan bahwa segala yang ada dibumi ini merupakan sebagian dari pada Tuhan.

ISLAM DALAM MEMANDANG KE-TUHANAN
    Dalam pandangan Buya Hamka, beliau mengatakan jika para Filsuf menggunakan agama sebagai landasan berfikir tentang ketuhanan, maka ia tidak akan tersesat dan mereka akan mengatakan bahwa yang ada dibumi ini bukan sebagian Tuhan melainkan tanda akan adanya Tuhan.

Tuhan yang disembah oleh seluruh ummat manusia ialah hanya satu yaitu ALLAH SWT.
Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُ  ۗ  هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ

"Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 51)

Allah SWT berfirman:

اِنَّ هٰذِهٖۤ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً  ۖ  وَّاَنَاۡ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ

"Sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu maka sembahlah Aku."
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 92)
Dalan tafsir Jalalayn yang dimaksud agama Tauhid ialah agama Islam, sehingga sudah jelaslah bahwa agama Islam itu agama Allah, sehingga Allah hanya meridhoi agama Islam yang berada disisi-Nya. Dan jelaslah pula bahwa Allah SWT. Adalah Tuhan untuk seluruh ummat manusia.

Akhirnya Al fakir mohon maaf jika terdapat kesalahan, karna manusia tidak mungkin terlepas dari kesalahan.
وسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Senin, 19 November 2018

Al Ikhlas ayat 1

Dakwah Al Ikhlas 112:1


Allah SWT berfirman:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ  
"Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa."
(QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 1)
Asbabun Nuzul Qs Al Ikhlas didalam tafsir Ibnu Katsir sebagai berikut ;
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id alias Muhammad ibnu Maisar As-Saghani, telah menceritakan kepada kami Abu Ja'far Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abu Aliyah, dari Ubay ibnu Ka'b, bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Nabi Saw.”Hai Muhammad, gambarkanlah kepada kami tentang Tuhanmu. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Katakanlah, "Dialah Allah Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya."(Al-Ikhlas: 1-4)
Ikrimah mengatakan bahwa ketika orang-orang Yahudi berkata, "Kami menyembah Uzair anak Allah." Dan orang-orang Nasrani mengatakan, "Kami menyembah Al-Masih putra Allah." Dan orang-orang Majusi mengatakan, "Kami menyembah matahari dan bulan." Dan orang-orang musyrik mengatakan.”Kami menyembah berhala." Maka Allah menurunkan firman-Nya kepada Rasul-Nya:
{قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}
Setelah kita mengetahui Asbabun Nuzul nya, maka penulis akan menuliskan beberapa pertanyaan yang dimana berkaitan dengan ayat tersebut ; 
P: Pertanyaan
J: Jawaban
1. P: Siapa yang memberikan nama “الله” pada diri-Nya?  
J: Qs Ta Ha: 14 
Allah SWT berfirman:

اِنَّنِيْۤ اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ  اَنَا فَاعْبُدْنِيْ  ۙ  وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

"Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku."
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 14)

2. P: Jika memang Allah itu ada, lantas mengapa dia tidak bisa dilihat oleh kita? 
J: Coba kalian berfikir, matahari itu ada cahaya nya?  Pasti ada, tapi bisa tidak mata kita untuk melihat matahari secara langsung tanpa adanya alat bantu?  Pasti tidak bisa, dan jika dipaksakan maka itu akan merusak mata. Sekarang pertanyaan untuk kalian, jika matahari saja tidak mampu kita lihat lantas bagaimana caranya kita akan melihat sang Maha Pencipta yang dimana ciptaannya saja tidak mampu kita lihat tanpa adanya alat bantu.

3. P: Di akhir ayat berbunyi “احد” yang artinya Esa, bukankah trinitas dalam agama Kristen itu tujuannya untuk Tuhan yang satu tapi mengapa mereka salah? 
J: Qs Al Ma’idah: 73
Allah SWT berfirman:

لَـقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْۤا اِنَّ اللّٰهَ ثَالِثُ ثَلٰثَةٍ  ۘ  وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّاۤ اِلٰـهٌ وَّاحِدٌ   ۗ 

"Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 73)
Logikanya maka seperti ini, anda seorang perempuan dan anda juga mempunyai adik perempuan. Datanglah seorang lelaki yang cinta kepada dirimu tetapi ia tidak langsung memberikan rasa itu kepadamu, justru ia memberikan rasa cinta dan sayangnya itu kepada adikmu, dengan harapan agar bisa lebih dekat denganmu. Sekarang pertanyaannya apakah kamu menerima cara yang demikian itu?  Pasti tidak, dan dirimu akan marah kepadanya lalu berkata “ Jika kamu memang mencintaiku mengapa kamu memberikan rasa cinta dan sayang yang kepada adikku kenapa tidak langsung kepadaku?”.
Jika dirimu marah dan cemburu akibat demikian lantas bagaimana dengan Allah?  Allah marah dan cemburu karna Allah tidak mau diadakan sekutu atau perantara dalam beribadah kepada-Nya.

4. P: Dalam ayat tersebut terdapat kata dhomir “ هو”. Bukankah itu menunjukkan untuk isim laki laki, berarti Allah berjenis kelamin donk? 
J: Baca ayatnya hingga tuntas, disana dilengkapi dengan kata “احد” yang artinya Esa atau Satu. Pertanyaan untukmu sekarang, ada berapa banyak laki laki didunia ini?  Tidak terhitung kan? Sehingga yang bersifat احد itu hanyalah Allah saja, para makhluk-Nya tidak memiliki sifat itu. Dan mustahil Allah berjenis kelamin, karna Allah itu berbeda dengan makhluk-Nya.
Allah SWT berfirman:

   ۗ  لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ  ۚ  وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat."
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 11)

5. P: Kau bilang Allah itu Maha Esa sudah pasti dia Maha Kuasa kan?,  nah bisakah Allah itu menciptakan sesuatu yang dimana Allah tidak bisa mengangkatnya?.
J: Sekarang saya balik bertanya kepada anda, sesuatu yang anda maksud itu apa?  Coba tunjukkan kepada saya. Karna matahari yang besar saja bisa Allah hancurkan, lantas sesuatu yang anda maksud itu apa?. 
P: Ya sesuatu 
J: Iya sesuatu itu apa?. 
P: hmmm ( Terdiam dan memikirkan sesuatu apa yang ia maksud)

6. P: Tolong ceritakan sejarah singkat tentang Tuhan sehingga Allah menurunkan ayat tersebut.
J: Pada dasarnya ketika kita lahir didunia ini, lalu kita berfikir maka kita akan mengatakan didalam hati bahwa ada yang menciptakan dunia ini, tetapi kita tidak memgetahui siapa nama penciptanya ini. Karna keinginan kita mengetahui siapa pencipta ini, maka banyak orang yang menggambarkan Sang Maha Pencipta dengan pemahamannya dan sesuai hawa nafsunya. Maka dari itu muncullah berhala sebagai sesembahan dll. Oleh karna itu Allah menurunkan para rasul-Nya untuk menjelaskan siapa yang Maha Pencipta itu maka turunlah ayat tersebut yang dimana untuk menjawab pertanyaan tentang siapa Sang Pencipta itu sekaligus menjawab tuduhan yang hina dari pada para manusia pada saat itu.

7. P: Okey, lalu bagaimana dengan adanya sekumpulan manusia yang tidak percaya dengan adanya Tuhan?. 
J: Jadi begini, ketika para Filsuf menggunakan akalnya untuk berfikir tentang ketuhanan, maka ia akan sampai pada sebuah tebing jurang lalu ia melihat disebrang sana adapula tebing yang lebih tinggi dan bahkan tidak akan mampu untuk dijangkau manusia. Maka seseorang yang akalnya bersih dan jujur maka ia akan mengatakan bahwa ada tebing yang tinggi dan itulah yang dinamakan Kebenaran Mutlak atau alam ketuhanan yang dimana tidak akan mampu dicapai oleh akal manusia. Lalu terdapat pula seseorang yang telah lelah berfikir dan ia mengatakan bahwa tidak ada tebing lagi yang lebih tinggi dari pada yang ia pijak, padahal ia melihatnya secara langsung. Tetapi ia malu mengakui kelemahan akalnya dalam mencapai tebing tersebut sehingga ia mengatakan tebing itu tidak ada.


Sebagai penutup, seorang Filsuf dari Inggris yaitu Herbert Spencer yang dikenal tidak percaya pada suatu agama apapun, ia mengatakan “ Kita terpaksa mengakui juga, bahwasanya segala kejadian ini adalah tanda bukti daripada Kodrat Yang Mutlak dan sangat tinggi untuk dicapai oleh akal kita. Dan agama itu yang mula mula sekali menampung hakikat yang tinggi dan mengajarkan siapa Dia. Cuma saja, agama itu pada mulai turunnya masih bercampur aduk dengan ajaran yang kacau balau”.

Daftar Pustaka
) HAMKA, BUYA.,2018,Pelajaran Agama Islam, Jakarta, Republika Penerbit.


Ditulis oleh: Muhammad Afiffudin Anshori 
Mahasiswa UIN JAKARTA (PERBANDINGAN MADZHAB) 
Semester 1
Ig: mochammad_Anshori

"HIDUP MULIA ATAU MATI SYAHID"