Sabtu, 27 April 2019

FALSAFAH CINTA

FALSAFAH CINTA

Cinta merupakan sebuah rasa ketertarikan yang Allah anugrahkan kepada makhlukNya, dan dengan adanya cinta ini maka akan timbul pula sifat yang lain, diantaranya saling mengasihi dan juga saling menyayangi. Cinta merupakan sebuah rasa yang menimbulkan rasa hormat dan menghargai antar sesama, dan dengan adanya cinta pula sebuah hubungan menjadi erat dan tak dapat diputuskan.

Cinta itu pada dasarnya mengajarkan saling kasih sayang antar sesama maka mustahillah seorang pecinta memiliki sifat pembenci, karna sifat benci bukanlah hadir daripada rasa Cinta, melainkan dari pada rasa hasad dan dengki. Mustahillah seseorang yang mempunyai rasa cinta ia akan merendahkan orang lain, karna bukanlah hakikat rasa cinta jika harus merendahkan karna sejatinya cinta itu menimbulkan rasa penghargaan.

Jika kita coba dalami arti cinta maka akan insaflah diri kita ini, betapa munafiknya diri kita ini yang mengaku mempunyai rasa cinta, namun tidak menjalankan hakikat cinta itu sendiri. Dan jika kita coba menilik lebih dalam, akan semakin insaflah diri ini, karna manusia memerlukan cinta dalam hidupnya dan ia tak akan mampu hidup tanpa adanya cinta, karna ia hidup didunia ini tidaklah sendiri melainkan hidup bersama dengan manusia yang lainnya.

Oleh karenanya jika cinta tidak ditumbuhkan dalam diri, maka ia akan hidup dalam kesendirian dan kebimbangan, karna tiadalah seorangpun yang ingin mendekat kepadanya, karna orang hanya mau berkawan dengan yang saling mencintai. Karna adanya cinta itu mereka merasa dihargai dan ingin bergaul dengan kita.

Cinta yang ada pada diri kita tidak boleh ada sekat pemisah diantara sesama, karna Rasulullah Saw. Sendiri bersabda;
“Tidak berimanlah kamu jika kamu tidak mencintai Saudaramu seperti mencintai dirimu sendiri”
Mengapa demikian? Karna jika kita cinta pada saudara kita, mustahillah muncul sifat kebencian kepada saudara kita. Karna pada hakikatnya kita pun ingin diri kita dicintai bukan dibenci apalagi sampai dihinakan. Jika diri kita tidak ingin diperlakukan itu, maka lakukanlah hal yang sama terhadap saudara kita.

Karna itulah Islam menjunjung tinggi sifat sosial terutama dikalangan masyarakat apalagi dengan saudara yang masih ada hubungan darah, maupun tidak.
Sehingga Rasulullah Saw. Menyatakan tidak beriman. Bukankah itu sebuah teguran bagi kita?  Bukankah itu pukulan yang mendalam bagi kita?  Cobalah kita renungkan akan hakikat cinta ini, agar diri kita ini semakin insaf dengan urgensi cinta ini.

Pada hakikatnya Cinta itu ialah suci pada dasarnya, karna ia merupakan anugrah dari Tuhan. Namun terkadang sesuatu yang suci itu kerap kali ternoda, sebagaimana batu hajar aswad yang dahulunya putih kinipun menjadi hitam akibat ternoda dosa manusia. Dan juga segelas susu yang putih akan berubah menjadi abu abu seketika, ketika ia dituangkan kopi didalamnya.

Cinta yang suci itupun ternoda dengan pelaku cinta itu sendiri. Karna kerapkali pelaku cinta itu menggunakan istilah cinta hanya untuk kemauan dirinya atau nafsunya semata. Bukan hanya itu, namun prilaku jahatnya pun dibalut dengan istilah cinta. Bolehlah kita tengok dengan fenomena yang ada pada zaman ini. Betapa banyak para pemuda melakukan kejahatannya dengan mengatasnamakan cinta padahal itu bukanlah cinta, melainkan dusta yang dibalut dengan cinta.

Bahkan Dr.Freud didalam Buku BUYA HAMKA, mengatakan “Tidak ada cinta yang tulus antar sesama manusia” jika kita baca saja, mungkin pernyataan ini tidak benar. Namun cobalah kita tilik kembali, maka kita akan insaf bahwa betul demikian, namun saya tidak sepenuhnya setuju dengan pernyataan itu.
Karna ada sebuah cinta yang tulus antar manusia, ialah cinta kedua orang tua kita kepada diri kita. Cobalah kita tilik cinta mereka kepada kita, demi Allah mereka tidak pernah mengharapkan balasan apapun dari kita, karna cinta yang tulus tidak mengharapkan timbal balik.
Demi Allah orang tua kita menjaga kita dengan penuh cinta dan harapan agar anaknya itu bisa tetap hidup untuk menikmati dunia ini. Namun berbanding terbalik dengan diri kita, andaikan jika Allah tidak memerintahkan diri ini untuk menghormati kedua orang Tua kita, akankah kita akab hormat? Tidak, dan bahkan ketika kita sudah dewasa kitapun menjaga orang tua kita tidak dengan cinta dan bahkan kita menjaganya hanya untuk menunggu matinya saja, berbeda dengan orang tua kita, menjaga kita untuk tetap hidup.

Itulah cinta yang tulus yang ada dari orang tua kita, namun kerap kali kita tidak menyadarinya. Dan cinta antar sesama manusia selain itu tiadalah akan namanya tulus, bolehlah kita ambil contoh orang yang menikah. Apakah mereka menikah karna cinta yang tulus? Tidak, mereka menikah hanya untuk menghalalkan nafsunya saja. Dan ketika mereka menikah, pastilah mereka berharap adanya rasa kasih sayang diantara sesamanya. Bukankah cinta yang tulus tidak membutuhkan balasan demikian?.  Tidak, itulah cinta yang berbalas dan bukanlah cinta yang tulus, walaupun sudah dengan ikatan suci. Apakah ketika demikian hal itu tidak diperbolehkan? Tentu saja boleh, karna itulah cara agama memberikan Jalan keluar atas permasalahan demikian.
Sehingga itu Dr. Freud berani mengatakan demikian.

Itulah hakikat cinta, cinta itu suci karena merupakan fitrah, namun ketika hal yang suci itu janganlah dinodai dengan perbuatan kita yang mengatasnamakan cinta. Hindarilah perbuatan itu, dan Janganlah munafik. Akui saja jika itu memang nafsumu tak usah kau balut dengan cinta yang suci itu.

Dan Ingatlah teruslah hormati dan hargai kedua orang Tua kita. Karna hanya dirinyalah yang mempunyai cinta yang tulus untuk diri kita. Tak bisa kita akan mendapatkan cinta yang tulus selain darinya.

Sabtu, 20 April 2019

Falsafah Niat Dalam Kehidupan

FALSAFAH NIAT DALAM KEHIDUPAN 
Dalam kehidupan kita kerap sekali melakukan sebuah perbuatan, baik perbuatan yang menimbulkan manfaat maupun yang menimbulkan keburukan. Perbuatan yang menimbulkan manfaat dinamakan “ 'Amal Sholih” dan perbuatan ini muncul dari sebuah akhlak, yaitu Akhlak Mahmudah(Akhlak Terpuji). Dan adapun perbuatan buruk itu muncul karna adanya Akhlak Mazmumah(Akhlak Tercela) dalam diri seseorang. 
Bahkan jika kita tilik, Akhlak Mazmumah bukan hanya menimbulkan perbuatan buruk tetapi juga menimbulkan sebuah perbuatan yang tampaknya juga baik, namun perbuatan itupun jadi buruk karna adanya Akhlak Mazmumah berupa “Riya' “. Riya sendiri mempunyai lawan yaitu “Ikhlas”, riya' dan ikhlas ini terdapat didalam hati kita yaitu berupa “Niat”.
Niat menurut Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di, ialah maksud dalam beramal untuk mendekatkan diri pada Allah, mencari ridha dan pahalaNya. Atau dapat pula kita simpulkan dengan singkat, bahwa Niat adalah maksud dalam melakukan sesuatu. Sesuatu yang kita kerjakan pasti memiliki maksud, baik buruknya suatu perbuatan itu, maka maksud inilah yang bernama “Niat”. 
Niat merupakan perkara yang penting dalam kehidupan terutama dalam bersosial terhadap masyarakat. Karna pentingnya niat itu Rasulullah Saw. Bersabda. 
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى
“ Sesungguhnya setiap amalan perbuatan itu tergantung kepada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”

Dengan adanya hadits tersebut semakin insaflah kita akan perlunya niat dalam segala hal. Sebagaimana dalam hadits itu disebutkan, yaitu “bahwa setiap amalan perbuatan itu tergantung kepada niatnya “ jika kita tilik sabda Nabi ini, maka perbuatan yang kita lakukan sebaik apapun itu tetapi jika diawali niat yang tidak baik, maka tidak menjadi baik pula perbuatan kita, melainkan menjadi perbuatan yang rusak karna sebelum pelaksanaannya saja sudah diawali dengan maksud yang tidak baik. 

Cobalah kita menilik kepada kejadian yang terjadi saat ini, betapa banyak orang mulai dari para pejabat dan orang kaya raya yang berlomba lomba berbuat kebajikan namun sayang perbuatan mereka tersebut tidak diiringi dengan niat yang tulus. Betapa banyak orang orang kaya dan pejabat yang dimana mereka berbuat baik lantaran ingin namanya dikenal dan mereka melakukan hal tersebut hanya pada momen yang menguntungkan baginya, jika tidak menguntungkan maka mereka tidak akan dan bahkan enggan untuk melakukan hal kebaikan tersebut. 

Rasulullah Saw. Juga menambahkan bahwa “setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”. Cobalah kita tilik kembali dengan kisah diatas, banyak orang yang berbuat kebajikan namun niatnya hanya mencari nama baik dan juga pangkat saja. Lalu sebenarnya untuk apa mereka melakukan hal demikian, tidak lain tidak bukan hanya untuk menutupi keburukan yang ada pada dirinya. Laksana ia memakai pakaian kebaikan ditempat yang menguntungkan dirinya dan juga namanya, dan betul saja ia mendapat sorak gembira dan menjadi terkenal dikalangan itu saja dan tidak akan lebih. Dan bahkan akan membuat orang yang mengenalnya menjadi jijik atas dirinya. 

Lantas jika seseorang itu sudah pulang dari tempat yang menguntungkan dirinya itu, akankah ia tetap memakai pakaian kebaikan itu? Tentulah tidak, karna ia akan malu kepada masyarakat yang kenal akan dirinya. Sekalipun jika ia berani pulang dengan pakaian seperti itu, maka dimata masyarakat tidak ubahlah pandangannya tentang dirinya dan bahkan masyarakat akan tertawa karna sejatinya pakaian yang ia pakai hanyalah untuk menipu masyarakat yang berada jauh darinya dan tidak begitu kenal akan dirinya, namun sejatinya masyarakat yang kenal akan dirinya tidaklah akan tertipu karna mereka tau sejatinya pakaian kebaikan tadi digunakan hanya untuk menutupi buruknya perbuatannya.

Itulah sedikit contoh jika seseorang berbuat kebaikan namun niatnya tidak tulus dari hati dan ia melakukan itu hanyalah untuk mencari nama saja, sehingga rusaklah perbuatan tadi karna niat buruknya sang pelaku tersebut. 
Dan perbuatan demikian hendaklah kita hindari, supaya kita tidak bermuka dua dihadapan orang lain ataupun kita hanya pandai cari muka saja dihadapan orang atas dasar menutupi keburukannya. Jika sifat mencari muka dihadapan orang terus digencarkan maka ia akan terus menerus mencari cara agar dikenal orang dan terlihat baik, sampai sampai ia lupa menilik dirinya sendiri. Sehingga jika ada yang memberikan kritik atasnya, ia tidak akan menyadari kesalahannya dan bahkan ia merasa tidak bersalah karna sibuk mencari muka.

Sekian pemikiran saya yang dapat saya tuangkan dalam tulisan yang singkat ini, semoga Allah SWT. Menjauhkan kita semua dari pada sifat tersebut dan selalu menjaga niat kita dalam beramal.
Amin ya Rabbal 'Alamin.

#Sumber Bacaan
BUYA HAMKA, FALSAFAH HIDUP 
BUYA HAMKA, PELAJARAN AGAMA ISLAM I,II, dan III